faizaLand











{September 2, 2010}   JENDELA RARA (Cerpen Asma Nadia)

Sebuah rumah imut
dengan dinding hijau berlumut,
Jendela-jendela besar yang menjaring matahari
dan halaman mungil berumpun melati

Apa lagi?

Rara, anak perempuan berusia sembilan tahun itu terus menggambari belakang kertas bungkus cabai, yang diambilnya dari los sayur Yu Emi. Sebuah pensil pendek terselip di jarinya. Mata Rara masih memandangi gambar rumah mungil, yang menjadi impiannya. Mulut kecilnya menyumbang senyum. Manis.

“Mak, kapan kita punya rumah?”

Sejak ia mengerti arti tempat tinggal, pertanyaan itu kerap disampaikannya pada Emak. Mulanya perempuan berusia empat puluh limaan, yang rambutnya beruban di sana-sini itu, tak menjawab. Baginya tak terlalu penting apa yang ditanyakan anak-anak. Kerasnya kehidupan membuat ia dan lakinya, hanyut dalam kepanikan setiap hari, akan apa yang bisa dimakan anak-anak esok. Maka pertanyaan apapun dari anak-anak lebih sering hanya lewat di telinga.

“Mak, kapan kita punya rumah?”

Kanak-kanak seusia Rara, tak mengenal jera atau bosan mengulang pertanyaan serupa. Dan kali ini, ia berhasil mendapat perhatian lebih dari Emak. Sambil menyandarkan punggunggnya di dinding tripleks mereka yang tipis, Emak menatap sekeliling. Matanya menyenter rumah kotak mereka yang empat sisinya terbuat dari tripleks. Hanya satu ruangan, di situlah mereka sekeluarga, ia, suami dan lima anaknya—sekarang empat—memulai dan mengakhiri hari-hari. Tak ada jendela, karena rumah-rumah di kolong jembatan jalan tol menuju bandara itu terlalu berdempet. Bahkan nyaris tak ada celah untuk sekadar lalu lalang, kecuali gang senggol yang terbentuk tak sengaja akibat ketidakberaturan pendirian rumah-rumah tripleks di sana.

Beberapa yang beruntung mendapatkan tiang rumah yang lebih kokoh,langsung dari beton tebal yang menyangga jalan tol di atas mereka. Kamar mandi? Ada MCK umum yang biasa mereka pakai sehari-hari. Cukup bayar tiga ratus rupiah, sudah bisa mandi puas.

Belasan tahun mereka tinggal di sana. Tidak perlu bayar pajak, hanya uang sewa setiap bulan yang disetorkan ke Rozak, Ketua RT mereka, sekaligus orang paling berkuasa di perkampungan sini, juga uang listrik ala kadarnya. Memang semua sangat sederhana, tapi baginya tempat tinggal ini tetap…

“ini rumah kita, Ra!”

Rara menggeleng. Ekor kuda di kepalanya yang kemerahan, karena sering ditempa garang matahari bergoyang beberapa kali. Di benaknya bermain bayangan tumah tinggal yang diimpikannya:

Sebuah rumah imut
dengan dinding kehijauan berlumut,
Jendela-jendela besar yang menjaring matahari
dan halaman mungil berumpun melati

Emak tampak kaget dengan tanggapan anaknya.

“Rara mau punya rumah yang ada jendelanya, Mak!”

“Bisa. Besok kita minta abangmu buatkan jendela satu, ya? Kecil saja tak apa, kan?” ujar Emak sambil tertawa. Kemana jendela itu akan menghadap nanti? pikirnya, ke rumah Mas Dadang tetangga merekakah? Apa iya mereka mau diintip kegiatannya setiap hari?

Tapi siapa tahu. Paling tidak hal itu mungkin bisa membuat Rara senang. Kalau dia menolak mengamen di perempatan lampu merah nanti, apa tidak repot?

Anaknya lima orang. Yang tertua jadi tukang pukul di tempat Mami Lisa, kompleks pelacuran dekat tempat tinggal mereka. Anak kedua, entah apa kerjanya, kadang pulang, lebih sering menghilang. Anak yang ketiga perempuan, sebetulnya dulu rajin sekolah, apa daya ia tak sanggup lagi menyolahkan si Asih. Jadilah gadis lima belas tahun itu drop out dari sekolah, dan sekarang kabarnya sudah jadi anak buah Mami. Entahlah. Anaknya yang keempat, bocah laki-laki, selisih dua tahun dari Rara, tewas dua bulan lalu, dengan luka di bagian leher dan anus. Mungkin jadi korban laki-laki gendeng yang suka menyantap anak-anak kecil.

Rara anaknya yang bontot. Keras kepala dan punya keinginan kuat. Sekarang masih sekolah di madrasah ibtidaiyah, itu pun karena kebaikan hati kakak pengajar di sana, ia tak harus membayar sepeser pun. Syukurlah.

“Jendelanya bisa masuk matahari, enggak, Mak?”

Rara menggoyang bahu Emanknya. Tapi kali ini perempuan yang melahirkannya itu hanya menghela napas berat dan meninggalkan Rara dengan bayangan jendela-jendela besar yang menjaring sinar matahari.

Di Madrasah, sorenya. “Kata Mak, rumahku akan punya jendela!”

Rara berbisik ke telinga teman sebangkunya. Di sekitarnya, kawan-kawan sedang mengikuti surat Al-Ma’un yang diucapkan Kak Romlah.

“Yang bener, Ra?”

Dua bola mata bulat milik Inah membesar. Ia ikut senang jika impian Rara terwujud. Sejak dulu Rara sering bicara soal keinginnannya memiliki rumah kecil dengan jendela-jendela besar yang memungkinkan sinar matahari masuk ke dalamnya.

“Kita bisa hemat listrik! Enggak usah idupin lampu lagi kalo siang!”

Rara menambahkan. Giginya yang kecil-kecil tampak seiring senyumnya yang lebar.

“Bisa belajar di sana dong?”

“Iya! Enggak harus ke gardu dulu untuk baca buku. Kan udah terang?”

Senyum lebarnya terkembang lagi. Inah tampak ikut senang.

“Aku mau minta ibuku bikin jendela juga, ah!”

“Aku juga!”

“Apa? Jendela di rumah Rara?”

“Gue juga deh. Mau bilang Bapak!”

“Enak ada jendela!”

Tiba-tiba suasana kelas riuh seperti pasar. Berita Rara yang rumahnya akan punya jendela menyebar luas. Ternyata apa yang diinginkan gadis kecil itu juga menjadi mimpi anak-anak yang lain.

“Jendelaku nanti paling buesar!”

Ipul, anak salah satu karyawan Mami Lisa, mengakhiri obrolan mereka sore itu sepulang dari madrasah.
——
“Jadi bikin jendela, Ra?”

Bang Jun, mencolek pipinya. Mata laki-laki berusia dua puluh tahun itu mengamati hasil coretan adiknya.
“Udah malam kok belum tidur?”

Rara tidak menjawab. Tangannya masih asyik menari-nari di atas secarik kertas usang yang diambilnya lagi dari Yu Emi.

“Eh, itu gambar apa, Ra?” komentar abangnya lagi.

“Jendela? Kok gede banget!”

Rara menghentikan kegiatan menggambarnya. Bola matanya yang cokelat menatap Bang Jun yang perhatiannya terpusat pada gambar. Gadis kecil itu menganggukkan kepala. Senyumnya cerah.

“Jadi kan, Bang Jun bikinin Rara jendela?” kalimatnya dengan tatapan penuh harap.

Jun hanya menatap Emak dan Bapak yang tiduran di atas sehelai tikar using. Wajah kedua orangtuanya itu tampak letih. Pastilah. Bukan pekerjaan ringan mencomoti barang dari tempat sampah satu ke tempat sampah lain. Belum jika hasil mulung Bapak, ternyata besi-besi tua. Memang bawa untung yang lebih besar. Tapi berat yang dipikul juga jelas jauh dibandingkan sampah botol plastik atau barang-barang lain . Malah akhir-akhir ini cuaca makin panas saja.

“Bang…”

Rara menarik kaus oblong yang dipakai abangnya. Beberapa saat Rara dan abangnya bertatapan, dengan pikiran masing-masing yang tak terpantulkan. Tapi keheningan mereka segera buyar oleh langkah-langkah yang terdengar dari depan. Asih muncul di balik pintu. Matanya yang sayu segera saja menatap keduanya tak semangat.

“Masih ngeributin soal jendela?”

Rara tak menjawab, tangannya meraih tas murahan yang dibawa Asih. Dengan sigap, gadis kecil itu mengambil air di teko dan mengulurkan ke kakaknya. Tapi Asih yang mulutnya bau minuman keras itu menepis.

“Gue ngantuk. Malah tadi laki-laki yang gue temenin minumnya kuat banget. Mau nolak, engga enak sama Mami.”

“Bilang aja lo sakit, sih! Tadi aja gue pulang duluan. Lagian pegawai Mami Lisa kan enggak cuma elo.”
“Iya, tapi itu kan sama aja nolak rezeki!

Rara diam, mendengarkan saja percakapan kedua saudaranya. Tapi kalimat kakaknya barusan, mengusiknya untuk menimpali, “Kata guru Rara di madrasah, rezeki kan dari Allah, Kak. Bukan dari tamu!”

Kalimat lugu yang dengan cepat dipatahkan kakaknya.

“Ahh, anak kecil sok tau. Tunggu nanti kamu gede, baru ngerasain. Hidup tuh cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!”

Rara menundukkan kepala. Kakaknya dulu lembut dan baik hati. Sempat juga ngaji di madrasah seperti dia. Tapi setelah putus sekolah dan jadi karyawan di tempat Mami, gadis berkulit hitam manis itu berubah. Dandanannya makin menor. Ke mana-mana pake kaus dan celana panjang serbaketat. Omongannya juga jadi kasar.

Rara tahu, tidak Cuma kakaknya yang berubah. Tapi juga kakak si Inah, ibu si Ipul, dan banyak lagi. Konon mereka dulu juga anak madrasah. Tapi daya tarik rumah pelacuran, yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari madrasah terlalu menggoda. Itu jalan pintas dapat duit. Realitas masyarakat di sudut-sudut Jakarta yang bukan tidak diketahui orang.

Rara tercenung. Mungkin benar hidup jadi orang dewasa itu sulit, pikirnya. Mungkin itu sebabnya mereka jarang tersenyum.

“Ra! Kalo mau punya jendela, modal sendiri dong!” lantang suara kakaknya mengagetkan Rara.

“Asih!”

Asih yang mabuk terus bicara dan tak menggubris teguran Jun.

“Kebutuhan tuh banyak. Udah bagus gue sama Jun kerja. Pake buat yang lebih penting dong!” cerocos Asih, tangannya menjewer kuping Rara.

Rara tak gentar. Matanya yang jernih menatap lurus kearah Asih yang menyalakan rokok dan menghirupnya nikmat. Bagaimanapun Kak Asih harus tahu kalo jendela itu…

“Jendela itu penting, Kak. Buat keluar-masuk udara. Terus kalo siang kita enggak perlu nyalain lampu. Udah terang karena sinar matahari yang masuk!” jawab Rara tak kalah keras.

“Tapi banyak yang lebih penting dari jendela,” Asih tak mau kalah, “Makan kamu misalnya!” lanjutnya kesal. Bayangkan ia sudah capek-capek tiap malam, kadang lembur merelakan badannya melayani empat tamu dalam semalam. Apa adiknya itu tahu?

“Tapi kata Emak, Bang Jun bakal bikinin Rara jendela. Ya, kan, Bang?”

Suara Rara lirih, bercampur isakan. Jun yang melihatnya jadi tidak tega. Tangan cowok itu membelai-belai kepala adiknya. Lalu menatap Rara lunak.

“Iya. Tapi Rara juga ikut kumpulin duit, ya? Jangan dipake jajan! Kita perlu uang untuk beli kayu, kaca, bikin kusennya…”

“Dan itu mahal, tau, Ra!”

“Ssst… Asih!”

Keributan yang kemudian tak terelakkan antara Jun dan Asih membuat Rara melarikan diri ke sudut rumah. Ia berjongkok sendiri, mata cokelatnya berkaca. Bertambah-tambah perasaan gundahnya kala Bapak terbangun lantaran suara berisik yang timbul, lalu menempeleng keduanya.

Dan semua gara-gara jendela besar Rara.

Ahh. Rara mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Besok ia akan mengamen lebih giat. Kalau perlu sambil jual koran, semir sepatu, atau membersihkan kaca mobil-mobil yang berhenti di lampu merah. Apa saja, pikir Rara.

Belakangan, lelah dan air mata membuat Rara tertidur. Pikiran kanak-kanak membawanya pada impian. Malam itu Rara bermimpi menari di antara jendela-jendela besar yang mengantarkan sinar matahari kepadanya. Juga kerlip bintang-bintang malam hari.

Selama seminggu lebih, Rara berhemat. Ia bahkan menghemat mandi, sehari sekali, supaya bisa menyimpan tiga ratus rupiah di sakunya. Uang perolehannya ngamen dan bekerja di perempatan , tak dipakainya sesen pun untuk beli es mambo di warung, kwaci, permen, dan jajanan lain. Ia betul-betul berhemat.

Dan sore ini Rara pulang dengan hati melonjak-lonjak. Menurut hemat gadis kecil dengan rambut diekor kuda itu, tabungannya cukup untuk membuat sebuah jendela yang besar. Bahkan jika tidak ada halangan, lusa mungkin ia sudah bisa menatap sinar matahari menghangatkan lantai tanah di rumah mereka. Membayangkan itu, perasaan Rara makin tak keruan. Seperti meluncur dari tempat yang tinggi. Sangat tinggi.

“Assalamu’alaikum! Emak?”

Rara menghambur kearah Emak yang sedang menyapu lantai. Bohlam sepuluh watt, mengalirkan hawa panas yang merembesi baju Emak. Padahal di luar sana masih terang.

“Mak, sini.”

Rara menyeret tangan perempuan itu, memaksanya duduk di bangku kayu yang satu kakinya telah patah.

“Apaan sih, Ra?”

Emak menatap anak bungsunya dengan pandangan sedikit cemas. Apa lagi sekarang? Baru semingguan ia merasa lega, karena Rara tidak lagi mengutarakan keinginannya untuk punya jendela. Yang dikatakan bapaknya si Rara memang benar. Anak kecil enggak usah terlalu dianggap serius. Mereka kadang memang menggebu-gebu minta sesuatu. Namun biasanya, keinginan itu juga cepat menguap dan hilang dari ingatan.

Rara masih memandang Emak dengan mata bercahaya. Keriangan anak-anak terpancar di wajahnya yang oval.

“Mak, tebak!”

“Apaan?”

Aduh, jangan soal jendela lagi. Jangan-jangan dia minta punya dua pintu lagi? Atau kamar sendiri? Batin perempuan itu sedikit cemas.

Rara menyerahkan sejumlah uang dalam kepalannya, ke telapak tangan Emak yang basah keringat.
“Buat bikin jendela! Jadi kalo kulit Rara sekarang lebih gosong, bukan karena main, Mak! Tapi karena Rara kerja banting tulang buat jendela kita! Papar gadis kecil itu ceriwis.

Jendela?

Mata penat Emak menatap berganti-ganti, dari uang di tangannya, dan raut wajah di bungsu. Begitu terus selama beberapa saat. Sayang, Rara terlalu riang untuk memperhatikan perubahan wajah Emak. Bocah perempuan itu malah terus bicara dengan kalimat-kalimat panjang, kadang nyaris tersedak, karena kebahagiaan yang meletup-letup.

“Jendelanya nanti di sebelah sini, ya, Mak. Rara mau nya kayunya warna cokelat tua. Malam ini Rara mau begadang nungguin Bang Jun. Mau kasih tau modelnya. Besok pagi, biar Rara temenin Bang Jun ke toko material. Kita bisa beli kayu, terus kaca, terus…”

Emak tak mendengar lagi penjelasan Rara. Benaknya digayuti kejadian siang tadi, ketika Pak RT datang bersama sekretarisnya dan berbicara serius.

“Gara-gara Rara, semua anak di sini pada minta dibuatin jendela sama orangtuanya. Saya bukannya tidak mau mengizinkan. Tapi kan Emak tahu sendiri situasinya. Rumah-rumah saling menempel, dinding yang satu menjadi dinding yang lain. Lagi pula, kalau dipaksakan, percuma tidak akan bisa masuk sinar matahari. Kecuali kalau mau ngebor jalan tol di atas sana! Saya sebagai Ketua RT tidak bisa mengizinkan!”

Mata lelah Emak mulai menggenang. Andai saja ia bisa memantulkan pikiran di benaknya. Pastilah seperti cermin yang memantulkan dua sisi bayangan. Rumahnya dan penduduk lain di bawah kolong jembatan ini, di satu sisi. Dan rumah Pak RT, di sisi lain, dengan jendela-jendela kaca yang besar.
Waktu masih terisi celotehan antusias Rara. Di dekatnya, Emak masih menatapi gumpalan uang kertas dan receh di tangannya.

Rumah kami, 2003

Sumber : Buku Album Cerita Pilihan Asma Nadia Emak Ingin Naik Haji Cinta Hingga Tanah Suci, Terbitan Asma Nadia Publishing House, hlm. 87-99, Cet. Pertama, Agustus 2009.



{September 1, 2010}   September Ceria

kenapa bulan september dijuluki “September Ceria”? ada yang tau??

siapa sih yang pertama kali mencetuskan kata “September Ceria” ?? hayooo… siapa? ngaku!!

diawal bulan september tepatnya tanggal 1 September, dua kata “september ceria” ini di www.plurk.com menjadi top tren status para pluker. Blm tau apakah di twitter juga jadi Top Tren Tweet karna saya nggak sempat mampir ke twitter (sebenarnya males aja buka twitter, hehehe… :p abis lola bangeet).



Dae Jang Geum

Jewel in The Palace (Dae Jang Geum/大長今)

Lagu tema film seri Dae Jang Geum alias Jewel in The Palace ini sangat memikat. Onara dalam bahasa Korea berarti “datanglah” atau mungkin “kemarilah”. Menurut penciptanya, Seh Hyun-Im, lagu ini mengisahkan kehidupan para gadis di istana yang harus mengabdi sepenuhnya kepada sang Raja. Di Korea Selatan sendiri terjadi perdebatan dalam memaknai lagu ini…berikut liriknya dan terjemahan bebasnya.

오 나라 오나라 아주오나 Onara onara aju ona
(datanglah, datanglah selamanya)

가 나라 가나라 아주가나 ganara ganara aju gana
(pergilah, pergilah selamanya)

나 나니 나려도 못노나니 nanari naryodo motnonani
(Aku terbang, namun meskipun ku terbang, namun aku tidak menikmatinya)

아니리 아니리 아니노네 aniri aniri aninone
(Tidak, meskipun aku tidak menyukainya, namun aku tak menikmatinya)

헤이야 디이야 헤이야나라니노 hey-ee-ya di-ee-ya heyeeyanara nino (Koor)

오지도 못하나 다려가나 ojido mothana daryogana
(Meski ku tak mampu melakukannya, bawalah aku serta)

에야~ 디야~ 에야나라~ 니요~ aeya diya aeyanara niyo (Koor)

오지도 못하나 다려가나 ojido mothana daryo gana
(Meskipun ku tak mampu melakukannya, bawalah aku serta)

Lagu ini bermakna sangat dalam, pada baris pertama bermakna seperti raja meminta para gadis untuk mengabdi ke istana. Sedang baris kedua menunjukkan bahwa jika sudah terlalu tua, para dayang diharuskan pergi untuk selamanya dari istana. Kata Nanani bermakna seekor lebah yang tidak dapat terbang meski punya sayap. Para dayang istana digambarkan seperti itu, meski mempunyai rasa cinta namun harus tetap mengabdi kepada sang raja.

Dae Jang Geum (大長今)

Dae Jang Geum / 大長今



{Agustus 29, 2010}   Tteokbokki (Kue Beras)

Bahan:

Tepung beras 300 gr

Air panas 110 gr

Minyak wijen 3 sendok makan

Caranya:

Tuangkan air sedikit demi sedikit pada tepung beras, kemudian aduk pelan-pelan dengan menggunakan tangan (eiitt.. mendingan pake sendok kayu aja ya!!).

Haluskan dengan menggunakan tirisan.

Setelah kukusan sudah mengeluarkan uap, kukuslah tepung beras itu hingga matang.

Setelah matang, angkat lalu dibuat menjadi adonan sambil mengoleskan minyak wijen supaya tidak lengket, hingga kenyal.

Adonan dibuat panjang dan bulat.

Tteok:

200 gr Tteok (kue beras),

1/4 bawang bombay,

30 gr wortel,

1/2  atau 1 buah  kubis

1 buah cabe hijau & merah,

1 sdt minyak goreng,

1 sdt minyak wijen.

Bahan bumbu:

1 sdm bubuk cabe merah

1 sdm gochujang, taujo cabe merah

1 sdm bawang putih yang dicincang halus

1/2 sdm gula pasir

3 sdm kaldu daging,

sedikit biji wijen, lada hitam dan minyak wijen.

Cara Memasaknya:

Adonan tteok dioles dengan minyak wijen. Potong melintang bawang bombay dan wortel,

Potong melintang cabe hijau & merah,

Masukkan 2 1/2 cup water dan  3 sdm kaldu daging ke dalam wajan, diaduk hingga masak,

Kemudian masukkan semua bumbu (gochujang, cabe bubuk, taujo cabe merah, gula pasir, lada hitam dan bawang putih) aduk hingga rata.

Setelah bumbu masak, masukkan tteok (kue beras), bawang bombay, wortel, cabe, dan kubis.

Masukkan dan tumislah hingga bumbu diresap pada tteok.

Tahap akhir, taburkan biji wijen pada tteokbokki dan siap dihidangkan.

“selamat mencoba!!” ^^



{Agustus 29, 2010}   Jul Bab Tofu

Jul Bab Tofu
Jul Bab Tofu (Bola-bola Nasi Tahu)

Bahan :
Satu mangkok Nasi ukuran sedang lebih juga boleh
30 butir Telur puyuh , rebus hingga masak kupas kulitnya dan sisihkan.
1/2 Firm Tahu , Remas – remas hingga hancur ( Haluskan )
Daun bawang secukupnya rajang kecil – kecil
1/2 potong wortel rajang kecil – kecil
1/2 potong sayur Brokoli , rebus sebentar kira – kira 3 menit saja kemudian tiriskan

Bahan bumbu :
Merica bubuk secukupnya
Garam secukupnya
1 sendok makan Bawang putih yg sudah di haluskan
Bumbu penyedap rasa kaldu ayam secukupnya.
3 sendok makan Minyak Wijen
Minyak goreng secukupnya untuk menumis.

Caranya :

Tumis bumbu, bawang putih, garam, bumbu penyedap, merica kemudian masukan potongan wortel tumis sebentar kecilkan apinya.
Siapkan tahu yg telah di hancurkan kemudian beri sedikit garam dan merica bubuk .
Masukan dalam tumisan wortel dan tumis kembali kira – kira 10 menit kemudian masukan Nasi putih aduk hingga rata dan cicipin rasanya hingga imbang , atur api dengan suhu sedang terakhir beri potongan bawang masak selama 5 menit angkat dan sisihkan.

Biarkan setengah hangat kemudian masukan potongan sayur Brokoli dan beri 2 sendok makan minyak wijen aduk hingga rata.

Kemudian bentuk bulatan dan pipihkan tengahnya beri telur puyuh tutup dengan Nasi tersebut bentuk bulatan bola – bola.

Dan siap untuk di sajikan, bisa pula sebagai kreasi untuk bekal.



{Agustus 28, 2010}   Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!



dan lain-lain
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.